Ribuan Warga Sumedang “Serang” Kawasan Jatigede, TARI UMBUL MERIAHKAN PERGANTIAN TAHUN 2019-2020

  • Whatsapp

 79 total views,  1 views today

Sumedang ■ Globalinvestigasinews.com – Lain koki lain masakan lain ladang lain belalang lain pemimpin lain pula gaya nya begitulah kata pepatah yang sering kita dengar
Demikian pula H Dony ahmad munir yang menjabat bupati Sumedang di tahun pertama saat ini rupanya telah menggiring warga masyarakat Sumedang pada pergantian tahun 2019-2020 menyerang kawasan waduk Jatigede Sumedang dengan tema kegiatan Event Woord Class Sumedang.
kegiatan yang dilaksanakan berupa tarian dengan nama Tari Umbul kolasal ini diikuti 5555 penari yang terdiri dari 270 desa dan 7 kelurahan di kabupaten Sumedang.
Kegiatan ini merupakan yang pertama di Indonesia karena di ikuti ribuan peserta dengan gerakan serentak secara bersamaan . Hal ini di katakan bupati Sumedang H Doni ahmad munir dalam pidatonya pada pembukaan acara tersebut (31/12/2019). Acara yang seharusnya dibuka pada pukul 08.00 akhirnya dimulai pada pukul 10.00.
Menurut H Doni ahmad munir, tujuan di laksanakannya kegiatan ini untuk mendongkrak pariwisata Sumedang.” Saat ini kami mencanangkan Sumedang sebagai kabupaten pariwisata di Indonesia” ujar doni.
Selain itu Doni berharap Sumedang sebagai puser budaya sunda dapat di lestarikan oleh seluruh warga masyarakat.
Sementara itu tokoh seni Tanjungsari Abah Maman mengapreasi postif atas terselenggaranya kegiatan Tari Umbul di Jatigede.
Dirinya berpendapat, bahwa kegiatan tari umbul yang di laksanakan serentak merupakan upaya pelestarian dan pengenalan budaya yang ada di tatar pasundan.
Sepengetahuan Abah Maman, tari umbul merupakan seni yang berasal dari Indramayu pada tahun 1940 dan di lestarikan di Dusun parugpuk Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang,
Menurutnya walaupun asal seni tari umbul dari daerah luar Sumedang, akan tetapi kegiatan tersebut merupakan kolaborasi seni dalam pengenalan pariwisata. “Kita ketahui bahwa Kawasan Jatigede adalah sasaran pariwisata yang diminati berbagai kalangan. Hanya saja pengenalannya belum bumming” tutur Abah Maman tokoh seni Tanjungsari yang juga Pembina di TMC(Tanjungsari Max Comunity) Sumedang di sela kegiatan tersebut yang dihadirinya.
Menurut Abah Maman, asal seni ini tidaklah menjadi masalah, karena merupakan kolabolasi seni yang ada di indonesia. ” Ini bagian kolaborasi seni yang bagus, kan lagu yang terdengarnya juga lagu Sumedang Simpati. Dan ini bagian pengenalan pariwisata yang tidak identik dengan kefanatikan daerah tanpa melupakan tatanan kedaerahan sendiri” pungkas Abah Maman… (NSH)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *