Ini Lukisan Kota Siantar – Panyabungan Tahun 1859

  • Whatsapp

 129 total views,  1 views today

Ginewstvinvestigasi.com ■ Mandailing Natal Sumut Commons” dari lukisan Steven Adriaan Buddingh (1811-1869), seorang pendeta Belanda yang menjelajahi Sumatera pada tahun 1852 – 1857. Lebih dari 40 kota di Hindia Belanda dikunjunginya. Kisah-kisah perjalanannya ditulis dalam tiga buku tebal, ”Neerlands-Oost-Indie”.

Read More

Selama di Panyabungan, Buddingh dijamu oleh Asisten Residen Angkola Mandailing, Philippus Godon. Itu masa-masa ketika Willem Iskander sudah masuk jenjang sekolah rendah (Inlandsche Schoolan) di Panyabungan.

Ketika itu, wilayah Mandailing dibagi atas dua bagian administrasi pemerintahan kolonial: 1) Afdeling Mandailing terdiri dari Groot Mandailing, Klein Mandailing, Ulu dan Pakantan dan Batang Natal, dan 2) Afdeling Natal terdiri dari Distrik Natal, Sinunukan, Partiloban, Kara-kara, Teloh Baleh, Tabuyung, Singkuang, Batu Mondan dan Batahan.

Dalam Sensus Penduduk yang dilakukan pada bulan September 1846, penduduk kawasan ini dilaporkan sebanyak 17.000 jiwa di wilayah Mandailing Godang, 11.000 jiwa di wilayah Mandailing Julu, dan 5.000 jiwa di wilayah Ulu dan Pakantan. Wilayah Angkola-Sipirok yang ketika itu berada di bawah Pemerintahan Asisten Residen Angkola-Mandailing, berpenduduk sebanyak 11.000 jiwa. Panyabungan menjadi kota penting, selain karena pusat pemerintahan Asisten Residen Angkola Mandailing, juga menjadi kota pendidikan. Dalam laporan yang disampaikan oleh Van Ophuysen misalnya beberapa tahun setelah Kweekschool Tano Bato dipindahkan ke Padang Sidempuan, disebutkan bahwa penduduk Panyabungan sudah gemar membaca. Itu didukung oleh majunya perkebunan kopi.

Kota Siantar ketika itu menjadi pusat pemerintahan raja tradisional yang menguasai wilayah Mandailing Godang, setelah mekar dari induknya, Bagas Godang Panyabungan Tonga. Kota Siantar awalnya dipimpin oleh raja Sang Yang Dipertuan, generasi ke-empat Dinasti Nasution. Pada masa kolonial, wilayah Kota Siantar dipimpin oleh Sutan Kumala Yang Dipertuan, keturunan ke-X dari Sutan Diaru.

Kantor Asisten Residen berdiri di sekitar RSUD Panyabungan sekarang. Bersebelahan dengan kantor Asisten Residen, ada pesanggarahan, Gedung Landraad (Kejaksaan), dan penjara kolonial (yang sekarang terjepit di seberang jalan depan Taman Kota). Pesanggarahan dibangun di Panyabungan, selain untuk menjadi tempat peristirahatan pejabat-pejabat Asisten Residen, juga untuk menjamu tamu-tamu pemerintahan kolonial. Disebutkan ketika itu bahwa pejabat-pejabat pemerintahan Belanda lebih memilih tinggal di Tano Bato yang berhawa sejuk dan relatif bebas dari Malaria, dibanding dengan Kota Panyabungan.

Dari lukisan itu tampak betapa Kota Siantar atau Huta Siantar menjadi kawasan kerajaan dengan istana raja atau Bagas Godang yang sederhana, dengan sebuah Alaman Bolak atau alun-alun yang luas.

Bagas Godang Kota Siantar yang raja pertamanya Sang Yang Dipertuan menjadi ikon penting, karena ia berhasil memadamkan pemberontakan terhadap ayahnya, Baginda Mangaraja Enda yang mendiami Bagas Godang Panyabungan Tonga. Di masa kolonial, ketika Sutan Kumala Yang Dipertuan menjadi raja di Huta Siantar, juga menjadi tokoh penting. Sebab, beliau merancang dan membangun mega proyek jalan ekonomi Panyabungan – Natal sepanjang 90 km. Karena itu, oleh Belanda beliau disebut Primaat Mandailing. Beliau juga disebut oleh Multatuli dalam bukunya “Max Havelaar” yang terkenal itu.(askalani_st)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *