Calon Walikota Cilegon Ratu Ati Diduga Tersinggung Tagline “Dinasti Korupsi” !! Haji Mumu Ajak Introspeksi Diri ??

 181 total views,  1 views today

Calon Walikota Cilegon Ratu Ati Tersinggung Tagline “Dinasti Korupsi” !!, Haji Mumu Ajak Introspeksi Diri ??

Read More

Ginewstvinvestigai.com|CILEGON – Saat menyampaikan pidato politiknya di acara Deklarasi Relawan dan Tim Pemenangan Kecamatan Jombang, Sabtu (15/3/2020), bakal calon Walikota Cilegon dari Partai Golkar, Ratu Ati Marliati, begitu menampakkan6 ketersinggungannya terhadap tagline ‘Dinasti dan Korupsi’ yang disematkan kepada dirinya oleh kubu bakal calon pesaingnya di Pilkada 2020.

Bahkan Ratu Ati membantah tagline itu dengan mengklaim dirinya adalah anak seorang pejuang. Ratu Ati menilai bahwa tagline ‘Dinasti dan Korupsi’ yang disematkan kepadanya adalah upaya provokatif.

Menyikapi ketersinggungan Ratu Ati sebagai rivalnya di Pilkada Cilegon, Bakal Calon Walikota Cilegon Ali Mujahidin menanggapinya santai. Pria yang akrab disapa Haji Mumu ini mengaku heran jika ada yang tersinggung dengan tagline tersebut.

“Soal tagline ‘Dinasti dan Korupsi Harus Terhenti’ yang dipersoalkan oleh bakal calon Petahana karena dianggap menyinggung perasaan masyarakat, itu masyarakat yang mana ya?” ungkap Haji Mumu kepada wartawan, Minggu (8/3/2020).

Menurut Haji Mumu, tagline yang beredar di spanduk dirinya itu merupakan bahasa normatif dan wajar dalam nuansa kontestasi politik. Dengan adanya pihak tertentu yang tersinggung, Haji Mumu justru balik mempertanyakan alasan ketersinggungannya itu.

“Kami kira tagline itu kalimat sederhana yang normatif, tidak melanggar aturan dan undang-undang÷ dan sama sekali tidak mengandung5 unsur provokatif, biasa-biasa saja. Jika ada bakal calon petahana mengusung tagline ‘Sukses Cilegon Tak Boleh Henti’, itu silahkan saja, tapi tentunya hak kami juga mengusung tagline ‘Dinasti dan Korupsi Harus Terhenti’. Jadi tidak perlu ada yang tersinggung jika dirinya tidak merasa,” ujar Haji Mumu.

Lebih lanjut, Bakal Calon Walikota Cilegon jalur independen ini menjelaskan, makna dan alasan pihaknya mengusung jargon perubahan dengan tagline tersebut. Yakni menurut Haji Mumu, untuk semangat melawan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), yang merupakan penyakit dalam kekuasaan dan sejatinya menjadi musuh bersama.

“Dinasti itu identik dengan nepotisme, dan nepotisme adalah salah satu hal yang dilarang oleh negara, musuh negara, dan diatur oleh undang-undang, karena biasanya nepotisme itu mendekati perbuatan kolusi dan korupsi. Sedangkan Korupsi itu juga biasanya saling terkait dengan nepotisme yang esensinya adalah musuh negara dan musuh masyarakat.
Lalu salahnya tagline itu dimana?” terangnya.

“Jika ada pihak yang alergi dan sensitif dengan tagline ‘Dinasti dan Korupsi Harus Terhenti’ tentu perlu dipertanyakan komitmen dirinya menjadi bakal calon walikota itu sebenarnya tujuannya apa? Apakah dia alergi terhadap isu penegakkan hukum, pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme,” imbuhnya.

Haji Mumu juga menyindir klaim Ratu Ati yang membantah sebagai anak koruptor dan mengakui dirinya sebagai anak pejuang.

“Soal yang bersangkutan mengklaim bahwa dirinya anak pejuang bukan anak koruptor, silahkan saja, namanya juga ngaku-ngaku, toh masyarakat juga uang fakta yang sesungguhnya. Sebenarnya yang bersangkutan itu anak pejuang, apa anak koruptor? Jawab lah yang jujur dan jangan dibolak-balik,” tegasnya.

“Bukankah bangsa ini sepakat bahwa Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme itu harus dihentikan? Bukankah Korupsi itu merusak tatanan kehidupan bangsa negara dan masyarakat? Bukankah sumber masalah dan persoalan di Kota Cilegon ini juga adalah dinasti dan korupsi? Sedunia juga tahu kalau Kota4 Cilegon ini banyak masalah korupsinya,” beber Haji Mumu.

Ketua Umum PB Al-Khairiyah ini juga mengimbau kepada Ratu Ati dan para pendukungnya, untuk introspeksi diri, agar tidak terlalu sensitif dan menuduh pihak lain provokatif.

“Kami kira yang tersinggung dengan tagline sebaiknya jangan terlalu sensi dan emosi, introspeksi diri saja sama-sama. Tidak perlu memandang tagline itu provokatif, karena nanti kalau disuruh buktikan provokatifnya di mana, dapat hampir dipastikan yang bersangkutan nanti tidak bisa jawab. Kemudian jika mau jadi calon kepala daerah keberatan dengan tagline ‘Dinasti dan Korupsir Harus Terhenti’, lalu yang bersangkutan mau menjadi kepala daerah itu tujuannya apa? Apa hanya mau memperkuat cengkraman dinasti dan korupsi?” ungkapnya.

“Jawabannya ada pada yang bersangkutan, dan warga Kota Cilegon juga tahu jawaban yang jujur dan obyektif, terkecuali bagi segelintir kelompok kecil orang-orang yang punya kepentingan subyektif,” sambung Haji Mumu.

Selain itu, Haji Mumu juga menegaskan dengan tagline tersebut, dirinya ingin ada perubahan nyata untuk perbaikan Kota Cilegon ke depan.

“Jadi kami tetap akan tegas dan lugas mengusung tagline ‘Dinasti & Korupsi Harus Terhenti’ dan Kota Cilegon kedepan harus berubah lebih baik. Kalau soal debat visi misi program nanti juga ada waktu dan tempatnya untuk di sampaikan kepada masyarakat secara terbuka,” pungkasnya.
(Elyjaro/him)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.